Yuliawati Madu : SAGU BAKAR Berbagi

Tantangan Menulis #25

#Edisi_Belajar_Dari_Rumah

Situasi bekerja dari rumah, belajar di rumah ataupun hanya tinggal di rumah adalah bagian yang paling banyak didiskusikan saat pandemic Covid-19 ini. Bukan saja anak-anak murid yang alurkan menuju media sosial, tetapi para pengajar, dan orang-orang yang berurusan dengan ajar-mengajarpun harus berinovasi. Itu pula yang dilakukan oleh SAGU Foundation (SF), sebuah lembaga bahasa yang membuka webinar perdana di Jumat sore ini bagi para pendiri, atau penggerak atau anggota aktif yang berkecimpung dalam dunia belajar bahasa Inggris. Dengan tema “Supporting Our Local English Learning Community”, cukup banyak yang antusias untuk hadir dalam webinar ini, sekitar 57 peserta yang mengisi form via google form yang disediakan . Disponsori oleh IALF Global dan Young Southeast Asian Leader Inisiative (YSEALI) kedutaan Amerika Serikat di Indoensia , kegiatan webinar perdana SF ini diminati oleh 57 peserta yang bukan hanya dari Papua dan Bapua Barat, tetapi dari kota yang berada di luar kedua provinsi ini seperti , Ternate,Makassar, Nganjuk(jatim), Wonomulyo di Polewali Mandar dan Bandung Barat,masing-masing satu orang.

Ibu moderator, yang juga adalah direktris SF, Ms.Tisha Rumbewas membuka webinar ini dengan tepat waktu dan menyampaikan salam ramah. Memperkenalkan ketiga pembicara yang telah merintis dan berperan aktif dalam kegiatan memperkuat kegiatan belajar dan mengajar yang cukup memberikan pengaruh positif kepada anggota masyarakat, baik itu anak-anak sekolah, mahasiswa dan para ibu-ibu rumah tangga, dan peserta lainnya yang merasa kegiatan English community mereka sangat membantu. Ketiga pembicara adalah, Dayu Rifanto, sang pencetus Buku Untuk Papua (BUP) juga seorang penulis buku cerita anak-anak konteks Papua yang kini berdomisili di Kota Sorong, Harry Cahayono, yang aktif dalam Papua Care juga dalam berbagai kegiatan-kegiatan yang membangun motivasi, menjadi salah satu perintis English An Hour di Timika, dan Yacop Manuhua, alumni ELTA Papua &Papua Barat 2018, yang sedang mendapat label Australia Awards Scholarship (AAS) 2019 dengan kegiatan rutinnya untuk menyelesaikan PDT nya di IALF Bali, berkecimpung dengan anak-anak yang ingin mempelajari bahasa Inggris, dalam komunitas mereka di Kota Merauke.

Ketiga pembicara dipersilahkan memaparkan apa-apa saja yang menginspirai mereka untuk melakukan kegiatan sukarela ini, tanpa menghitungkan bayaran. Motivasi-motivasi diri dan halangan yang dihadapi serta bagaimana mengatasi halangan halangan yang silih berganti, serta bertalian dengan pengaturan waktu dengan kesibukan mereka sendiri. Ini dikarenakan peserta webinar yang hadir pun bervariasi,mulai dari ada yang baru ingin atau berinisiatif untuk memulai kelas-kelas bahasa inggris, ada yang sudah mulai tetapi belum berjalan maksimal, ada yang ingin mendengar bagaimana mempertahankan eksistensi grup, karena pada umumnya tak berbayar. Akhir pemaparan, masing masing pembicara akan disediakan waktu lima menit untuk ‘Q&A”. Karena kegiatan webinar ini baru perdana diadakan oleh SF, jadi harap maklum kalau ada kendala sedikit di masalah teknis dengan audio, tetapi secepatnya hal itu pun bisa diatasi.

Di akhiri dengan kesimpulan dari pertanyaan dalam pandangan umum dari masing-masing pembicara, dan satu pendapat dari ibu Rini yang mewakili IALF Global sebagai salah satu sponsor webinar ini, moderator,Ms Tisha Rumbewas menutup webinar ini.

Banyak hal yang bisa diambil dari kegiatan ini selagi mendengar, mencatat dan melakukan diskusi di ‘chatroom’ ataupun bertanya langsung. Semakin banyak kita berdiskusi untuk kebaikan banyak orang, semakin banyak pula kebaikan-kebaikan banyak orang yang akan terlihat atau berimbas.

Mari berpartisipasi dalam webinar berikutnya, sumbangsih ide, usul, tanya, jawab, diskusi, jaringan kerja, berbagi dan lainnya yang bisa membuat kebaikan-kebaikan kecil untuk orang-orang di sekeliling kita.

Sumber asli : SAGU BAKAR BERBAGI